Assalamu'alaikum,
Hai, apa kabar ?
Emang ada orang ya disini ? atau cuma Google bot aja yang mondar-mandir disini ? nevermind saha lah, saya cuma pengen muasin emosi lewat teknologi ini ╋╋ム ╋╋ム ╋╋ム.
Desember, hampir 12 hari saya lewati di bulan terakhir di tahun ini, semua kenangan dan impian selalu aja merujuk pada seorang wanita, entahlah. Soalnya saya tak tahu musti apalagi yang bisa diharapkan, entah uang, pengetahuan, atau apapun selalu menuju wanita aneh tapi real. Dammit!
4 Bulan tepatnya tanpa ada kata-kata "a geura tuang" dari seorang emak yang amat hebat membesarkan dan mendidik saya. Namun, ada kebahagian tersendiri yang saya alami di beberapa bulan tersebut. Ya, dialah orang yang mampu membuat saya menggila akan adanya. Tak perlu deskripsi banyak, dia hebat dan saya percayai dia.
Disini saya mau cerita soal kedekatan saya dan dia.
Kita belum jadian, tepatnya belum pernah jadian. Dia datang dari sebuah negara yang memiliki situs jaringan sosial terbesar beberapa tahun terakhir, dan sayangnya dia bukan bule, malahan dia adalah seorang sunda manis memikat yang memiliki akun di situs tersebut. Dia seumuran dengan saya, hanya berebeda beberapa bulan/hari/jam saja sepertinya. Kita berkenalan lewat situs tersebut, menerangkan basic dari diri masing-masing dan bertukar nomor ponsel. Saya harus akui saat itu saya tengah "mencintai" seorang gadis di sebuah pesantren kakak saya, dan sayangnya kala itu saya berperan sebagai kanvas (sadisnya korban) pelampiasan wanita "alim" tersebut.
Kembali ke cerita semula, saya mulai mendekati gadis sunda itu, saya sms dia, telfon dia, kadang saya telfon ibunya sekedar menanyakan putrinya yang hebat itu.
Suatu hari, masih bergelut dengan jaringan sosial yang sangat booming kala itu, saya galau riang menggila karena mendapati wanita tersebut mencinta dengan seorang laki-laki dari ujung pulau ini. Entahlah, mungkin ia menginginkan saya pergi atau memang mencintainya dengan jari atau suaranya, saya tak mau banyak suudzon terhadapnya. Bangkit, ya bangit adalah kata terbaik untuk menumbuhkan rasa percaya saya, parahnya lagi saya malah terus saja menelfon atau sekedar menanyakan kabarnya, saya seperti pengemis saat itu.
Tahun kedua, dawal tahun lalu saya mencari sebuah toko komputer yang menerima jasa prakerin siswa smk. Anehnya, saya malah mencarinya dimana ia tinggial saat itu. Kita tetap saling menghubungi saat itu dan saya juga tetap percaya akan perasaan saya.
Ada cerita lucu saat pertama saya pulang kampung dari kota ini, entah kenapa dia ingin bertemu saya diakhir vacation saya tersebut. Gagal, hanya kalimat tersebut yang mengerogoti (ciee), kita tak bisa bertemu karena bus yang saya naiki telah meninggalkan statsiun cicaheum dan betapa sakitnya ketika melihatnya berlari di trotoar jalan, saya sangat amat menyesal tidak memberitahunya sejak hari pertama saya sampai disana.
Prakerin berjalan, 3 bulan dari bulan juli, 3 bulan yang penuh dengan hujaman pukulan sakit hati. Bagaimana tidak ? Teman saya yang juga sekamar dengan saya, menikung begitu saja dan gadis sunda itu menerimanya.
Kemesraan mereka, suasana mereka, dan sakitnya senyum palsu yang saya lontarkan didepan mereka, entahlah apa kata terburuk untuk itu.
Pernah suatu hari digedung tempat saya prakerin, saya sedang main game di toko dimana teman saya yang lain prakerin, gadis itu menyapa dan saya tidak menganggapnya, tuh saya lupa sampai saat ini belum meminta maaf terhadapnya.
Ceritanya pulang dari bandung,
Saat itu jelas gak mikirin apa-apa lagi selain "gimana saya lulus dari sini ?" dan singkat cerita akhirnya saya lulus juga dari VHS saya. Saya kira selulusnya dari sana saya bakal mulus aja ngelanjutin perjuangan pendidikan saya. Ternyata tidak, saya harus menikmati minggu terbaik sepanjang umur belasan tahun dirumah dan menjalani aktifitas layaknya "idle boy". Ya walau ditemani beberapa cerita lama yang amat sangat melankolis, saya tetap tak menganggap apa-apa soal bidadari yang numpang buang air kecil itu.
Setelah beberapa hari, saya membicarakan masalah perguruan tinggi dengan orang tua saya, dan disini letak kebimbangan saya akan masa depan karena sang nini yang menginginkan rumah baru dan harus saya tak perlu saya beberkan itu adalah kewajiban orang tua saya. Sudah berapa batang yang saya bakar untuk menemani otak saya yang perlahan mengering, pikiran saya tetap ingin melanjutkan namun dilain tempat kondisi financial yang entah bagaimana keadaannya. Sampai akhirnya, 2 orang terhebat itu menanyakan saya akan kampus mana yang akan dituju kelak.
Mempersingkat tulisan saya, saya memilih bandung dan sudah mendaftar sebagai mahasiwa («sengaja) disana. Harus saya akui, saya tak mengingat gadis itu walau sedang menyendiri istirahat saat masih mondar mandir mencari alamat fakultas yang promosi di sekolah dulu.
Pada suatu hari dia sempat menyakan akan keberadaan saya disini, sejak itulah kedekatan yang mengerat dikedua makhluk ini. Ya begitulah kita saling sms, saling menanyakan dan menjawab. Kadang dia main ke kosan sekedar bermain dan bercerita bersama kakak dan saya tentunya.
Continued next time..........
Ratingnya: 5